Sabtu, 19 Maret 2016
MERENDA HARIHARI#1
...rutinitas ibu mertua.
Kala subuh, saya membuka pintu, dalam glap dan hawa sejuk menyergap, saya ambil koran yang ia tunggu.
Menghantarkan kekamarnya. Ia membaca,isi tts, dipegang erat.
(namun isi koran jangan ditanya...tak ada yang ter-save di memori).
Lalu, ia berjalan ke dapur. merobek kalender harian. Me-reuse sobekan hari kemarin.Menulis 'things to do' hari ini, seperti: menu makan apa, yang akan dimasak asiten rumah tangga. Sebagai menteri perkonsepan&ide, saya memberi masukan masak apa. Dari list makanan yang telah dibuat sebenarnya, yang tak sreg dijadi acuan. Kertas-kertas reuse itu, ia çompile' dalam buku tahunannya... yang punya keindahan sendiri bagi saya.
(Ibu mertua saya eks sekretaris. Skillnya terpatri laju.
Tapi ingatannya meruap.
Ia-nya, Alzheimer).
-19maret2016.
Jumat, 12 Februari 2016
ABSOLUTE BEGINNERS
Reuse/Reclaim postcard calendar 2015. 'Absolute beginner'series.Acrylic/300grpaper.
Karya ini diselesaikan pada 30 hari -9februari- moksanya sang Ziggy Stardust
menjadi debudebu berterbang di angkasa.
Judul diambil dari lagunya yang membekas sejak saya putih abuabu.
-februari2016. interested? https://society6.com/onezhan
Rabu, 10 Februari 2016
CÉST SI BON
Kantor tiga kali pindah: Menteng, borobudur 9. lalu yang terakhir, di Darmawangsa 12. Sekitar 94-1995.
Saya hengkang tahun 2005 untuk kembali ke khittah, melukis.
Fotoin anak saya didepan kantor monumental itu padasuatu malam di Desember,
yang akhirnya mau dijual.
Lewat sana, saya ngiangkan ke dia: "disini ayah dan ibumu bertemu".
Dan menggenapkan kenangan, melukis di bekas shopping bag 'çhevignon'jeans yang meski lusuh tetep keren, hadiah dari eks mentor saya.
Cést Si Bon artinya It's so good.
Dari lagu Perancis jazz-klasik keren, Earta Kitt.
Jumat, 29 Januari 2016
WOMAN AND SUN, 1987
'Woman & Sun'. Oil Painting on Canvas. 1987.
canvas size: 50X65cm.with gold wood-frame: 64x78cm.
Salahsatu lukisan awal saya dengan cat minyak. Habis saya bersihkan dan lumuri dengan varnish oil agarsanya kinclong berkilau seperti matahari.
Lukisan ini mengambil rupa ibu saya almarhum dengan ciri khas di cuping hidungnya dan hidungnya yang mancung. Nuansa Jepang dilukisan, karna saat sma, seingat saya ia menyukai lagu Jepang seperti Mayumi Itsuwa. Dan saat saya diterima di UI, ada momen di perpustakaan sastra UI yang membekas. Seorang mahasiswi tamu Jepang bersimpuh dibawah berbicara dengan temannya pria yang sedang duduk di kursi. Seperti anggahungguh Geisha adanya.
art for sale. check: https://society6.com/onezhan
Rabu, 20 Januari 2016
SHOPPING-BAGS ARE CANVASES
Artist Uses Shopping Bags as Canvases.
It begins from shopping bags collected by his wife, some of them were received from gifts and taken from trash bins. One Zhan, a reuse artist tried to recreate shopping bags as the canvases. Most of the liked theme to be painted are child with big eyes profile, leaves or tree shapes. This artist likes to be called 'scavenger artist'. He was start creating on used materials since he was at elementary school, about 40 years ago. He collected note books residual to be comics or playing cards (remaining stored in the shelf). His commitment for nature conservation is still high. In fact, with his opinion, an artist can have role to avoid environmental damages, no matter how small it is. Until now, he still working on it, painting on used stuffs, in his green-ish atelier at Jakarta, Indonesia.
Occasionally accompanied by birds, squirrels and butterflies.
ig: @one_zhan
(by N.W. january 2016).
Kamis, 14 Januari 2016
MENJERANG BUKU ATASKEPALA
![]() |
| setelah 3 tahunan, ia baru baca komik fotokopian ini |
![]() |
| penggemar buku di rumah |
Saya tau, kami membesarkan mahluk 'RebelRebel'.
ia dibesarkan dalam larangan sangat minim.Kebebasan memilih sangat besar (Kecuali untuk halhal yang potensial-destruktif). Maka, sulit menaklukkannya untuk meng'iya'.
Saya memilih membesarkannya dalam cara ia tumbuh dalam 'kerelaan/kesadaran' meski lambat mensiput. Maka ia tetap main games seperti anak seusia, tapi buku akhirnya membuah hasil menjadi kegemarannya juga. Dalam derasnya gamesdangawai, hal ini sesuatu yang 'vintage'.
Seperti kami gemar menggambar diskets buku, saat menunggu pramusaji mengantar panganan cepatsaji, dikala akhir pekan sejuk. Lalu saling bersitatap, dan menghaturkan kehangatan terima kasih...
Mungkin kelak ia melewati tahap 'textbook'. Tapi gagasan dari penulis dibuku/orang hebat, bisa menjadi komet-komet yang bertabrakan di kepalanya nanti, yang melahirkan bintang dan keindahan baru.
'Menjerang Buku AtasKepala'. 15jan.
Lukis cepat/tanpa ide diatas 'PlasticHolder/Art-Keeper' sekolah anak.
Senin, 11 Januari 2016
R.I.P BOWIE
| 'You are a singing Whale, Sir'. 1999. |
![]() |
| Bowie with his painting. titled: Iggy Pop.1976. |
Di situs pitchfork, album 'blackstar'nya dinobatkan salahsatu best album.
Juga salahsatu tracknya, terbaik. Lalu sontakmendadak, 10 januari ia mangkat dari singasana para legendamusik.Dua hari setelah ultahnya, pada 69 tahun.
Tahun lalu sebelum rilis, curicuri bocoran sound 'blackstar' dan ngasi tau ke kenalan musisi industrial yang lebih khatam dari saya. Agak kaget sebagai orang awam, musiknya kembali futuris, jazzy, kelam tapi lebih spiritual (atau mungkin demonik). Setelah sekian waktu 'mencoba keras' menikmati album-albumnya yang seenakudel ragam, sejak terpincut smp tahun 1983, saya membuncah lagi.Jleblah.
Harus diakui. Ia salahsatu idola saya ketika masuk pubertas. Sd malah saya dengernya hanya Elvis, pengaruh Bunda almarhum.
Saat itu saya punya genk smp, yang sama-sama suka musik 'new wave' dan yang anehaneh. Lalu, smp itu, lagu pertamanya yang asoi terdengar, bersama Queen: 'Underpressure' tahun 1981 yang dibeli dipasarbaru. Abis suntuk belajar, mompa spirit lagi.
Lagu 'Let's Dance' dan 'Blue Jean' sudah pasti membuat siapapun pengen dance, itu tahun 1983 dan '84.
Masuk sma, 'Absolute Beginner' adalah lagu fave saya, circa 1986. Jelang ujian dan siap lulus sekolah. saya suka sekali lagu itu, hingga sekarang amsih kerasa kekinian. Lagu-lagu sebelum 80an (tahun 70an dirilis) seperti Starman, Ziggy Stardust,Life on Mars, Changes, RebelRebel,Heroes malah telat saya dengerin saat jaman sudah marak dengan digital keping. 'Space Oddity' menjadi fave saya juga, tapi dalam rentang waktu yang sangat lama baru bisa ternikmati, malah sudah kerja diradio, 90an. Padahal lagu itu dicipta 1969, setahun setelah saya lahir.
Mengenang SMA itu. lagi getolnya baca buku reliji,filsafat,politik sampe komik. Dan diminta jadi pengajar paskil (pesantren kilat) di sekolah, sama kawans guerilla fundamentalista era anti represi asas tunggal& era perlawanan terhadap pelarangan berjilbab disekolah (yang 80an itu marak). Kitabsuci sudah kucel dibolakbalik intens mencari nash-nash dalam setiap kajian bareng.
Eh, pulang ke rumah malah ngelukis, dengernya opa Bowie.
Buat temen-temen saya kala itu, baik lukis/musik, terhitung mudharat atau minimal 'laghwi'. Paling keras, dikafirin.
Tapi sebagai insan merdeka, saya punya tafsiran lain.
Sesungguhnya, dengan digodok hal Fundamental lalu denger musik Liberal kayak opa Bowie waktu itu, resonansi masamuda saya menjadi YinYang. Tidak bisa mengerti yang bernama 'toleran' kalo penjelajahan 'respect' nggak dimulai waktu itu. Ya, dengan mangkatnya Bowie ini saja, kaum reliji bisa berkaca, gimana dalam hidupnya dan matinya seseorang -dalam rentang waktu sezaman kita hidup- begitu dihormati fansnya tanpa rekayasa dijaman serba rekayasa. Merebut hati banyak orang dan jadi inspirasi.Tanpa memaksa. Tanpa agenda.
Diakhir hidupnya, David Robert Jones -nama aslinya- bikin saya jadi garukgeleng kepala. Ia bisa nutup dengan manis, dengan 'blackstar'nya sebagai kado pemungkas buat penggemar. Dengan konten lirik yang seperti menjemput kematian dalam keagungan.
Hidup dan matinya, seperti KerjaSeni yang 'khaffah'. Selebihnya urusan Paduka.
Eh, pulang ke rumah malah ngelukis, dengernya opa Bowie.
Buat temen-temen saya kala itu, baik lukis/musik, terhitung mudharat atau minimal 'laghwi'. Paling keras, dikafirin.
Tapi sebagai insan merdeka, saya punya tafsiran lain.
Sesungguhnya, dengan digodok hal Fundamental lalu denger musik Liberal kayak opa Bowie waktu itu, resonansi masamuda saya menjadi YinYang. Tidak bisa mengerti yang bernama 'toleran' kalo penjelajahan 'respect' nggak dimulai waktu itu. Ya, dengan mangkatnya Bowie ini saja, kaum reliji bisa berkaca, gimana dalam hidupnya dan matinya seseorang -dalam rentang waktu sezaman kita hidup- begitu dihormati fansnya tanpa rekayasa dijaman serba rekayasa. Merebut hati banyak orang dan jadi inspirasi.Tanpa memaksa. Tanpa agenda.
Diakhir hidupnya, David Robert Jones -nama aslinya- bikin saya jadi garukgeleng kepala. Ia bisa nutup dengan manis, dengan 'blackstar'nya sebagai kado pemungkas buat penggemar. Dengan konten lirik yang seperti menjemput kematian dalam keagungan.
Hidup dan matinya, seperti KerjaSeni yang 'khaffah'. Selebihnya urusan Paduka.
Langganan:
Postingan (Atom)














